Kamp penginterniran Jepang, penderitaannya serta hasrat untuk melangkah kedepan.






Lampersari (Semarang), termasuk kamp penginterniran yang terbesar di Indonesia pada waktu Perang Dunia ke-II. Sekitar 8000 wanita beserta anak-anak hidup dalam kegetiran dan kesengsaraan , kelaparan, kondisi kesehatan lingkungan yang buruk dan penganiayaan yang terus menerus dari pimpinan kamp orang2 Jepang.
Pada tanggal 20 Oktober para eks tahanan kamp Lampersari berkumpul lagi untuk ber-reuni. Henk Tebbenhoff adalah salah satu dari pada eks- penghuni kamp tersebut. "Lampersari telah banyak mengakibatkan kesengsaraan, tetapi kita harus maju terus."
Henk Tebbenhoff tiba di Hindia-Belanda (Indonesia) pada tahun 1938 beserta orang tuanya, ketika berumur 2 tahun. Ayahnya telah mendapatkan pekerjaan pada Hollandse Betonmaatschappij dan oleh karena ia harus dapat bergerak leluasa, maka mereka tinggal di (pulau) Jawa, Borneo (Kalimantan) dan Celebes (Sulawesi).
Selama penempatannya, telah lahir lagi dua anak. Pada waktu pecahnya perang, keluarga tersebut bertempat tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Tebbenhoff masih dapat mengingat masa tersebut.
" Disekolah Dasar kita mendapat segala macam latihan untuk mempersiapkan diri menghadapi perang." Antara lain, kita harus menggigit sepotong karet guna menghadapi derunya pesawat2 pembom yang terbang melintas."
Waktu yang sangat menakutkan: "Orang2 Indonesia mulai mengobrak-abrik rumah2 orang Belanda. Dimana-mana terlihat gerbong2 kereta-api yang terbakar. Surabaya telah penuh dengan penjaga2 Jepang. Bilamana kita melaluinya, kita harus membungkuk. Ini adalah sebagai tanda pemberian penghormatan kepada kaisar Jepang Tindakan ini adalah suatu tolok-ukur kebudayaan Jepang.
Seorang anak, tak akan mengerti perihal kebiasaan ini. Apa yang dilihatnya adalah pemukulan yang bertubi-tubi akibat dari pada penolakan melakukan hal tersebut."
( catatan penterjemah: Pada tahun 1942, penterjemah, yang baru berumurr 8 tahun, naik becak berdua bersama ayahnya pergi ke Rumah Sakit Kalisari Semarang untuk keperluan operasi ayahnya. Ketika melalui penjaga Jepang dipersimpangan Randoesari-Kalisari, dan oleh karena ayahnya tak mampu turun dan memenuhi kewajiban tersebut diatas, maka ayahnya mengalami nasib pemukulan bertubi-tubi dengan senjata penjaga tsb., sesuai yang diutarakan oleh penulis. Kemudian ia meninggal setelah mengalami operasi.)




Daerah lingkungan perumahan orang2 Eropa dikelilingi dengan pagar anyaman dari bambu (gedek), terpisahkan dari penduduk asli. Dan tindakan2 represi mulai meningkat.
Setelah ayahnya di-internir, mulailah perjalanan ke kamp-biara di Gedangan. (Semarang). Perjalanan kesana tak akan terlupakan oleh Tebbenhoff, "kami dimasukkan dalam kereta-api tertutup. Penuh sesak, dengan sengatan teriknya sinar mata hari. Perjalanan ini memakan waktu 24 jam. Tempat pembuangan air besar-kecil tidak tersedia. Adik saya berada dalam keadaan terhimpit. Bukan main kesengsaraannya.

Dalam bulan Januari 1944, para tahanan dipindahkan ke kamp Lampersari. Kamp yang paling mengerikan dan terbesar diseluruh Indonesia. Pada permulaanya hanya ada 1200 wanita dan anak2, pada akhir perang tercatat delapan sampai sembilan ribu tawanan: berjejal-jejal seperti ikan sardin dalam kaleng.
Kamp Lampersari terletak dipinggiran kota Semarang. Terdiri dari dua bagian. Di lereng yang tinggi terletak kantor kamp (De Benteng) dengan beberapa blok bedeng. Dibagian yang rendah terletak rumah2 kampung yang tak layak huni. Rumah2 ini didirikan dari gedek, dan masing2 terdiri dari 2 kamar.
Dalam salah satu rumah inilah Tebbenhoff tinggal, beserta ibunya dan duapuluh orang lainnya. Diantara bagian yang tinggi dan rendah ini adalah lapangan berpasir, dengan rumah sakitnya dan sebuah tempat terbuka, ditempat mana dibagi2-kan makanan dan dilaksanakannya apel2 harian.
Keadaan higiene-nya sangat buruk. Lalat, kutu-busuk dan tikus merajalela dimana-mana. Keadaannya makin lama makin memburuk, akibat bertambahnya manusia.Terutama kutu-busuknya sangat mengganggu. Tebbenhoff: " Kalau kutu2 itu dipites, maka baunya bukan main, sepert bau roti amandel." Agar keadaan sedikit lebih lumayan, maka anak2 diperintahkan oleh orang2 Jepang untuk menangkapi lalat2.
Makanannya terdiri dari segenggam nasi, bubur kanji dan gumpalan berwarna coklat yang harus dibayangkan merupakan roti. Pada permulaannya masih dibagi-bagikan paket2 makanan dari Palang Merah,, namun lama kelamaan tidak lagi. Makanan 'ekstra' sedapat mungkin dibagi-bagi merata dan terdiri dari sesendok teh gula pasir atau ikan. Mereka menikmatinya ber-jam2 lamanya.
Para tahanan bekerja di-'kebon' kamp tersebut, membersihkan selokan atau bekerja .'didapur'. Para anak juga diharuskan membantu dengan tugas2 berat ini. Tebbenhoff beruntung memperoleh tugas menjadi pesuruh dari rumah sakit, yang mana tugas ini juga memiliki sisi2 yang kurang menyenangkan. Apabila ada orang yang meninggal, dia disuruh menyampaikan berita duka yang kurang menyenangkan ini.




Pimpinan kamp berada ditangan tentara Jepang. Ini mengakibatkan daya hidup yang sudah buruk, menjadi makin memburuk. Pendidikan, melakukan ibadah agama serta berekreasi tidak diperbolehkan. Sebagai penggantinya, para tahanan harus mengalami tindakan2 yang tak terduga-duga dari pada orang2 Jepang.
Pada saat2 tertentu tak terjadi sesuatu apapun, dilain waktu, karena suatu masalah kecil, seorang medapat ganjaran dengan sebuah ikat pinggang kulit ber-'koppel'. Sering kali seseorang harus dapat menahan diri akibat cemuhan2, seperti tertera dalam buku harian Carla Vermeer-Van Berkum: " Kami mendapat hukuman, karena dilarang untuk berjalan-jalan mengenakan baju kaftan dan merias muka. Apel2 dilapangan berpasir adalah yang paling ditakuti. Tiap pagi para wanita dan anak2, kadang2 ber-jam2 lamanya, diharuskan berdiri dibawah teriknya sinar matahari serta membungkuk untuk orang2 Jepang.
Hukuman2-nya juga tidak berperikemanusiaan. Tebbenhoff: "Sebagai pesuruh dari rumah sakit, saya sering kali berjalan melalui wanita2 yang selama 24 jam diharuskan berdiri diterik matahari, diatas lempengan beton, atau berjongkok dengan sebuah tongkat bambu diantara lekukan lututnya, dibawah sinar matahari."
Ia juga teringat kejadian sebagai berikut. "Orang2 Jepang sangat tidak suka akan manusia2 yang kurang beres ingatannya. Mereka akan di-isolir dan dikerangkeng. Pada waktu pengambilan makanan, kami berjalan melalui seorang wanita yang sedang dikerangkeng. Ia menyapa kami: 'Ibu, apakah anda mengetahui bahwa di Bijenkorf (toko mewah serba-ada pada waktu itu) anda dapat membeli segala macam? Dari kancing hingga potongan daging bagian iga.' Saya tak pernah akan lupa kejadian ini!
Adalah juga suatu kenyataan, bahwa orang2 Jepang relatip sayang kepada anak2. Tebbenhoff: "Mereka selalu menawarkan kami coklat, namun oleh ibu kami, kami dilarang menerimanya. Mereka kan musuh kami."
Ketegangan di kamp terasa menyerikan. " Hukum tak tertulis adalah janganlah anda tampak menyolok. Betapa laparnya anda, mencuri sama sekali tidak terpikirkan. Karena apabila anda kepergok, ibu anda akan dihukum dan dipukuli. Jadi biar saja kelaparan.
Kehidupan di kamp makin lama juga makin apatis Acuh tak acuh jadinya. Apalagi untuk anak2, sulit akibatnya. Anda tak dapat memperbincangkan sesuatu dengan siapapun juga. Anda tak akan mendapat pendengar."




Anak2 kamp sangat cepat tersinggung.
Mereka tidak sanggup menanggung tekanan2 hidup.
Dalam pada itu, selalu timbul pertanyaan dalam diri sendiri:
Apakah benar telah terjadi kejadian sedemikian itu?
Apakah ini bukan suatu khayalan belaka?




Oleh karena itu, pembebasan dari penjajahan Jepang pada permulaannya juga dianggap sebagai sesuatu yang mustahil. Salah satu yang dilakukan pertama-tama adalah meng-'gedek': yaitu, melewati diatas pagar pengeliling, dilakukan penukaran pakaian dengan barang makanan para penghuni setempat.
Juga keluarga Tebbenhoff ikut serta. Bahkan ibunya berhasil untuk pergi ke tempat kamp yang lama (walaupun ada larangan untuk keluar kamp). Didalam sebuah poci dalam bak toilet disembunyikannya uang tunai, untuk dapat membeli makanan.
Periode setelah perang, terkenal dengan sebutan periode-Bersiap. Pada waktu mana didunia Barat, kemerdekaan adalah suatu kenyataan, dan pembangunan kembali berada diujung kaki langit, namun di Indonesia timbul perang baru: antara para penjajah kolonial sebelumnya dengan para penduduk asli. Keselamatan jiwa kebanyakan orang Eropa pada periode ini adalah tak menentu. Bahwa keputusan keluarga Tebbenhoff untuk tetap tinggal dikamp, pada akhirnya merupakan tindakan penyelamat jiwa mereka.
Terjadilah situasi yang paradoksal, dimana orang2 Jepang, bekas penyiksa mereka, diharuskan melindungi mereka dari para pejuang2 kemerdekaan Indonesia. Tebbenhoff bersyukur:: " Kami sangat beruntung. Banyak wanita dan anak2 yang lari dari kamp telah diserang dan disembelih oleh orang2 Indonesia. Dan pula, kami melihat bahwa perang bagi kami belum selesai.
Kami dijaga oleh suku2 Ambon, bersenjatakan tongkat2 besi bekas tempat tidur, pisau dan senapan2 hasil rampasan, mereka berlari2 dalam lingkungan kamp.. Hal in tak disadari sepenuhnya, namun keadaannya adalah sangat berbahaya. Berkobarlah suasana perang.
Sekembalinya di Semarang, ia berjumpa lagi dengan ayahnya. Suatu pertemuan kembali yang mengharukan., namun juga suatu permulaan dari berakhirnya kekeluargaan mereka. "Ayah saya ikut membantu membangun kembali struktur pra-perang. Mereka ingin meluruskan kembali segala sesuatunya.
Ayah saya bersemangat akan tujuan ini; berkibarnya bendera merah-putih itu baginya tak ada gunanya.
Bahwa sebenarnya suatu perobahan telah terjadi, tak dihiraukannya.
Dan pandangan ini juga ia perlakukan untuk keluarganya. Tetapi hal ini tak mungkin terjadi. Ibu saya seolah-olah tak ingin lagi diperintah apa yang ia harus lakukan. Inilah tragedi segala-galanya. Banyak pernikahan telah porak poranda setelah penjajahan tersebut.



Pada akhirnya keluarga Tebbenhoff kembali ke negeri Belanda pada bulan Juni 1947. Belakangan orang tuanya kembali lagi ke Indonesia; namun anak lelakinya tercinta ditinggal sama keluarga tiri. Pada tahun 1953 ibunya akan kembali menetap di negeri Belanda, ayahnya pada tahun 1956, dimana ia meninggal pada tahun itu juga.
Dilingkungan keluarga-tirinya, tak sepatahpun dibicarakan masalah2 waktu perang. Belakangan didengarnya, bahwa orangtua-tirinya, selama masa perang, menjadi mata2 Jerman. Suatu takdir kehidupan yang menyedihkan.
Di lyceum Baarn ia memperoleh perggantian suasana. Setengah dari pada pelajarnya berasal dari Indonesia.
Mereka mengenal suasana Indo dan ini memberikan suatu rasa kenyamanan. Disana ia juga berkenalan dengan calon istrinya. Namun tak pernah disinggung lagi mengenai kehidupan penahanan di kamp. Seperti banyak eks penghuni kamp tahanan, selama tahun2 pembangunan ini, mereka tetap menekan perasaannya akan kejadian2 yang menyedihkan tersebut.
Ini berlalu sampai tahun 1983, pada waktu mana semuanya muncul kembali diatas permukaan. Ia harus melepaskan jabatannya sebagai guru. " Saya tak sanggup lagi. Sulit tidur, tak dapat berkonsentrasi lagi,. Saya sama sekali kehabisan tenaga! Saya selalu tergesa-gesa, tak punya waktu untuk anak anak. Saya berusaha untuk tak menonjol, seperti di kamp. Menutup diri sama sekali.
Dan lagi, saya membenci segala sesuatu yang berbau otoriter. Seolah-olah, saya tak ingin lagi dimanipulasi. Dan yang gilanya, kepada anak2 saya, saya terapkan otoritas ini. Untuk dapat mencegahnya, selalu timbul pergolakan dalam bathin."
Terutama adalah pergolakan menuntut untuk dapat diakui, untuk diri sendiri namun juga untuk lingkungan disekitarnya. " Saya hingga saat ini masih merasakannya. Orang kebanyakan di negeri Barat sekadarnya mengetahui akan kelaparan dimusim dingin, bahwa mereka harus memakan kembang tulip. Namun bahwa kejadian di Indonesia juga segawat itu, ada kalanya terlupakan.
Setelah diam sejenak: "Anak2 kamp sangat cepat tersinggung. Mereka tidak sanggup menanggung tekanan2 hidup. Dalam pada itu, selalu timbul pertanyaan dalam diri sendiri. Apakah benar telah terjadi kejadian sedemikian itu? Apakah ini bukan suatu khayalan belaka? Pada tahun 1988.ia mengorganisir untuk pertama kalinya sebuah reuni dari kamp Lampersari.
Pada tanggal 20 Oktober para eks penghuni kamp kembali berkumpul. Apakah ada gunanya? " Saya telah melalui sedikit banyak suatu proses pengolahan diri, kalau tidak maka saya tak akan setenang ini memper-bincangkannya. Untuk saya, berbuat semacam ini adalah suatu kepuasan hati, walaupun saya hanya penerus suara saja.
Tetapi untuk kebanyakan, ini adalah suatu keharusan! Adalah menyedihkan untuk melihat betapa banyaknya yang masih menanggung beban. Ini dapat menimbulkan bahaya apabila semua kegagalan hidup oleh kebanyakan orang ditimpakan kepada akibat dari pada kehidupan di kamp. Saya pernah berkata: 'Kalian mendambakan kehidupan di kamp' Saya mengetahui bahwa ucapan ini tidak akan menyenangkan orang, tetapi adalah perlu sekali untuk mengenyahkan pemikiran semacam ini.
Kita harus meyakinkan anak2 kita, bahwa perang semacam jangan sampai terulang lagi.. Melihat kebelakang dengan rasa dendam dan kebencian adalah sangat buruk.
Lampersari telah menyakitkan hati, tetapi kita harus maju terus"
(18 Oktober 1990).



Dikutip dari tulisan berbahasa Belanda dalam berita mingguan setempat yang terbit dalam periode: 1Mei 1990 sampai Maret 1991. Diterbitkan di website:: http://www.semarang.nl/algemeen/info_lampersari.html

Diterjemahkan oleh: Gerrit van Waardenburg; New York, 2003. Dibesarkan di Semarang; alumni SMP Domenico Savio & SMU Kolese Loyola. gvanw331@aol.com