Oei Tiong Ham, Manusia 200 Juta


Oei Tiong Ham (1888-1924), tak diragukan lagi sebagai orang terkaya dan paling berkuasa yang pernah tinggal di Semarang. Beliau adalah pengusaha keturunan Cina dan pendiri perusahaan Oei Tiong Ham. Saat kematiannya, Beliau meninggalkan warisan sebesar 200 juta guilders.

Dalam tahun-tahun terakhir, perusahaan Oei Tiong Ham terdiri dari: Perusahaan Perdagangan Kian Gwan, Perusahaan Pengembangan Gula Oei Tiong Ham Ltd, Perusahaan Perbankan Oei Ting Ham Ltd, yang mengendalikan Perusahaan Bangunan Randoesarie dan Perusahaan Kapal Uap Hiap Eng Moh Ltd.

Oei Tjie Sien, Ayah Oei Tiong Ham, meletakkan dasar berdirinya kerajaan industri tahun 1858. Di tahun tersebut Oei Tjie Sien mengawalinya dengan menjual mangkuk-mangkuk Cina dan peralatan rumah tangga lainnya sebagai penjual barang-barang 'kelontong'

Dia datang ke Semarang untuk alasan politis. Beliau pengabdi kerajaan di propinsi Fukien, Cina dan melarikan diri dari tanah airnya dengan tergesa-gesa, meninggalkan istri dan putera pertamanya. Saat itu dia tidak sempat membawa barang-barang miliknya, sehingga dia harus memulai semuanya dari awal.

Oei Tjie Sien menempuh pendidikan di Cina, ini cukup luar biasa sebagai pekerja pendatang kebanyakan yang saat itu hampir semuanya tidak bisa membaca dan menulis.. Banyak kesempatan di Semarang, yang sedang menuju kota industri. Orang-orang Cina adalah pedagang dan Oei Tjie Sien memiliki bakat berdagang yang luar biasa. Dia mulai menjual kemenyan dan gambir, sebagai unsur dalam buah pinang. Usahanya berkembang pesat dan menghasilkan keuntungan 3 juta guilders. 1 Maret 1863, dia mengawali perusahaan perdagangan: Kian Gwan: 'sumber kemakmuran bagi setiap orang'

Tahun 1890, Oei Tiong Ham mengambil alih usaha ayahnya. Sejauh itu, perusahaan Kian Gwan mengutamakan perdagangan di bidang karet, kapuk, tapioka dan kopi tetapi Oei Tiong Ham mulai memfokuskan di industri gula. Tahun 1894 beliau membeli lima pabrik pengolahan gula, salah satunya adalah Redjo Agoeng dekat kota Madiun. Beliau memodernisasinya dan mengangkat, kebanyakan orang belanda, pengelola yang paling layak.

Sangatlah bertolak belakang dalam dunia bisnis orang Cina untuk mengangkat 'Orang Luar'. Bagaimanapun juga, hal itu segera terlihat bahwa mengangkat orang yang menurut mereka layak dan bukan untuk ikatan keluarga yang membawa kemakmuran perusahaan. Pabrik gula segera memproduksi 100,000 ton gula tiap tahun.

Oei Tiong Ham menyadari bahwa dirinya harus mengembangkan resiko dan modalnya sebagai bagian dari keuntungan, dalam industri yang sama sekali berbeda : Perusahaan Bangunan Randoesarie. Dalam tahun-tahun terakhir, perusahaan tersebut menjadi salah satu dari perusahaan bangunan yang terpenting dan paling berpengaruh diantara perusahaan bangunan yang ada di Pulau Jawa.

Perusahaan Randoesarie mendirikan dan menyewakan penginapan yang sebagian besar diperuntukkan para pekerja pribumi mengingat adanya perusahaan bangunan lainnya Grond & Huizen, dengan kantor cabang di London dan Singapura, yang mengatur penyelesaian harta kekayaan di Hindia Belanda berikut kesulitan-kesulitannya.

Oei Tiong Ham dulunya seorang petani opium di Semarang, Surabaya, Solo dan Yogyakarta. Ini adalah usahas yang menguntungkan. Seorang petani opium menyewakan hak untuk mengumpulkan pajak demi kepentingan pemerintah. Antara tahun 1890 dan 1904 beliau menghasilkan keuntungan 18 juta guilders.

Kehidupan pribadi Oei Tiong Ham pun juga ambisius. Beliau Menikahi Goei Bing No, Puteri dari seorang keluarga Semarang yang kaya raya. Mereka dikaruniai dua puteri. Beliau memiliki tujuh selir dan sebelas puteri dan tiga belas putera lainnya. Putera bungsunya lahir di Singapura tahun 1924.

Tahun 1921, Oei Tiong Ham pindah ke singapura. Ada dua alasan baginya meninggalkan kota Semarang. Oleh serangkaian hukum Belanda, beliau diharuskan membagi kerajaan bisnisnya diantara semua penuntut-penuntut hak. Selama perang tahun 1914-1918 beliau memperoleh keuntungan perang melalui berspekulasi dalam pasar gula dan pemungutan pajak.

Oei Tiong Ham berorientasi pergi ke barat, tetapi tidak pernah belajar bahasa Belanda. Tahun 1889 beliau merupakan salah satu dari yang pertama memperoleh ijin untuk memotong ikatan rambut Cina-nya dan mengenakan busana barat. Tahun 1898, beliau ditunjuk sebagai pemimpin orang-orang keturunan Cina tetapi dua tahun kemudian beliau mengundurkan diri atas permintaan sendiri disebabkan kesibukan usahanya. Tahun 1901 beliau menjadi warga kehormatan diantara warga keturunan keturunan China.

Oei Tjie Sien, Ayah Oei Tiong Ham wafat tahun 1900 dan sudah melekat erat dalam cara hidup orang-orang keturunan Cina. Bagaimanapun juga, dari usia belia dia menanamkan uangnya di bidang pertanahan. Dia membeli perkebunan Semongan, barat daya kota Semarang, bersama dengan gedung Penggiling dan Kuil terkenal Sam Po Kong. Tahun 1880 pemerintah mengabulkan permohonannya untuk tinggal di perkebunan. Waktu itu bukanlah hal biasa bagi warga keturunan Cina untuk tinggal di luar Pecinan. Oei Tjie Sien membuka kuil untuk masyarakat umum, dimana sebelumnya hanya boleh dimasuki setelah biaya masuk dibayar.

Oei Tiong Ham juga diijinkan tinggal di luar Pecinan. Beliau bersikeras di Gergadji, yang pada abad 19 berada dilingkungan kaki bukit. Ayahnya membeli villa tersebut dari pengusaha Cina yang bangkrut, Ho.

Oei Tiong Ham pindah ke villa ini bersama dengan ketujuh selirnya, puteri-puteri Ho. Vila yang luas bergaya neo-klasik dikelilingi oleh padang luas dengan memelihara binatang liar dari hewan-hewan aneh. Disini beliau mempunyai kenangan indah dari anggota Keluarga Kerajaan Asia dan Eropa. (Asian and Europian Royal Houses).

Oei Tiong Ham, wafat di Singapura tahun 1924. Beliau dimakamkan di Semarang di Perkebunan Penggiling, sesuai keinginannya. Beliau mengangkat dua puteranya, Oei Tjong Swan dan Oie Tjing Hauw sebagai penerus perusahaan Kian Gwan. Oei Tjong Swan menarik diri tetapi Oei Tjung Hauw melanjutkan usaha bisnis. Tahun 1927, dia memakai listrik untuk pabrik gula Redjo Agoeng, dimana kini menjadi model manajemen modern. Dia menugaskan arsitek kenamaan Semarang Liem Bwan Tjie untuk membangun kantor pusat yang baru di Hoogendorpstraat, sekarang Jalan Kepodang. Interiornya dipuji karena kemewahannya, berhiaskan batu pualam.

Hingga perang dunia kedua, Perusahaan Kian Gwan berkembang. Setelah penyerahan kedaulatan, pengelolaan dialihkan dari ibukota ke luar negri secara bertahap. Sekaligus untuk mengantisipasi peningkatan krisis politik dan ekonomi tahun limapuluhan.

Akhirnya, apa yang tertinggal dari cabang-cabang perusahaan di indonesia dinasionalisasi tahun 1961.

Oei Tiong Ham - Semarang


(Sumber: Brommer, B., Semarang Beeld van een stad, Asia Maior, Purmerend, 1995, page 19.)